Thursday, October 20, 2011

Mourinho, Jilatlah Ludahmu Itu...

Pada pertarungan Leg1 semifinal UCL antara Real Madrid vs Barcelona di lapangan memang sudah berakhir, tetapi pertarungan di luar lapangan terus berlanjut. Kubu Real belum bisa menerima kekalahan dihadapan pendukungnya sendiri dengan skor 0-2.

Jose Mourinho sebagai pelatih Real merasa telah dizolimi oleh wasit karena dinilai telah berpihak ke kubu Barca. Salah satu yang paling diprotes adalah kartu merah yang diterima Pepes pada menit 60 akibat pelanggaran kerasnya terhadap Dani Alves.
Benarkah Pepe tidak layak menerima kartu merah itu?
Benarkah kartu merah diberikan kepada Pepe akibat provokasi pemain yang berlebihan terhadap wasit?
Dalam hal ini pasti masing-masing memiliki sudut pandangnya sendiri dan akibatnya akan terjadi perdebatan sengit. Tergantung dari sudut mana kita yang menilai.
Mourinho kali ini terlalu berlebihan dan kekanak-kanakan, respek saya segera menghilang. Karena menurut saya, Mou sudah bersikap berlebihan. Padahal kita tahu dia adalah seorang profesional, bukan anak-anak.
Katakanlah apa yang dilakukan Pepe bukan pelanggaran berat dan Alves bersikap berlebihan.
Seharusnya seorang Mou yang sudah sekian puluh tahun berkecimpung dalam dunia sepakbola tahu tentang hal ini.
Dimana para pemain suka melakukan diving dan kelicikan lain dalam lapangan untuk mendapatkan keuntungan bagi timnya. Bukankah saat menangani Chelsea dan Inter Milan, ia tahu betul para pemain jago dalam hal diving gerakan yang berlebihan saat dilanggar lawan?
Bukankah Mou juga sangat tahu kalau bintangnya di Real juga sangat jago dalam hal ini? Siapa lagi kalau bukan Ronaldo!
Dalam sepakbola satu hal yang paling saya tidak respek adalah tindakan para pemainnya yang sangat berlebihan ketika dilanggar. Mungkin kita sudah sering melihat, seorang pemain yang terkena gerakan tangan lawan bagian dadanya, tetapi yang dipegang justru bagian mukanya dan kemudian berguling-guling kesakitan.
Atau ketika lawan yang berusaha menghadang bola, namun menyenggol sedikit kakinya, tetapi yang terjadi si pemain menjerit kesakitan dan minta segera diselamatkan.
Kadang-kadang melihat kejadian ini, sampai pikiran jahat saya timbul. Andai saja saya yang jadi lawannya, sekalian saja saya tackle sampai patah, biar tahu rasa!
Jadi seharusnya seorang Mou kali ini belajar untuk menertawakan dirinya sendiri, karena taktik “liciknya” tidak berhasil saat menghadapi Barca.
Karena kesempatan yang dimiliki pemainnya untuk berlaku curang tidak kesampaian.
Begitulah dalam hidup ini, kita yang bernama manusia sangat dengan lebih jelas melihat yang dilakukan kesalahan orang lain. Dengan mudah melakukan penghakiman kepada orang lain. Padahal apa yang dilakukan orang lain tersebut, tidak berbeda dengan yang sering kita lakukan juga.
Visca Barça and no offense!

No comments:

Post a Comment