Friday, October 21, 2011

Foto-Foto Penampakan Baru Akademi La Masia

Beberapa pekan lalu, Barcelona menutup akademi terkenal milik mereka, La Masia untuk menjalani proses pemugaran. Setelah proses renovasi selesai, saatnya mengucapkan selamat tinggal kepada bangunan kuno bergaya benteng abad ke-18 yang telah berdiri semenjak tahun 1970.

Dan sambutlah bangunan bergaya modern yang berkilau dan didominasi oleh corak warna yang menjadi ciri khas Barca, merah dan biru. Akademi yang baru juga lebih berkilau ketika sinar matahari dipantulkan oleh kombinasi beton dan kaca yang berdiri kokoh di sebelah kompleks latihan Joan Gamper Sports City milik klub.
Foto - foto di bawah ini menunjukkan wajah baru La Masia lengkap dengan interior di bagian dalam. Kamar milik para siswa, tempat belajar siswa dan tempat siswa berlatih sepak bola. Berikut beberapa foto-foto akademi baru La Masia yang baru saja diresmikan 20 September 2011 yang juga dihadiri oleh para pemain, staff, pelatih dan legenda FC Barcelona. Cekidot...







  






































Lihat video ini juga, peresmian gedung baru akademi La Masia yang berdurasi 1 jam, 57 menit. Dijamin Anda tercengang melihatnya. Visca Barca y Visca Catalonia!







[Foto via tumblr, video via youtube FCB]

Guti: Sukses Barcelona Karena Wasit? Tidak!

Walaupun Guti Hernandez pernah memperkuat Real Madrid selama 15 tahun, (notabene rival abadi Barcelona) ia tak sependapat dengan tudingan negatif yang ditujukan kepada anak asuh Pep Guardiola tersebut. 


Salah satu mantan gelandang terbaik Spanyol, Guti Hernandez tak setuju dengan tudingan beberapa pihak bahwa sukses Barcelona dalam tiga tahun ke belakang adalah berkat bantuan wasit.

Dalam perjalanan menggapai mahkota Liga Champions musim lalu, Arsenal sempat mengecam keras kepemimpinan wasit Massimo Busacca yang mengusir Robin van Persie secara kontroversial di Camp Nou. Dalam duel 2nd leg perdelapan-final itu, The Gunners tunduk 3-1 dan tersingkir 4-3 secara agregat.

Di semi-final, giliran Real Madrid yang tak terima dengan kartu merah langsung untuk Pepe setelah menerjang Daniel Alves pada pertemuan pertama di Santiago Bernabeu, di mana sang tuan rumah akhirnya tumbang 2-0.

Usai pertandingan tersebut, pelatih Madrid, Jose Mourinho, lantas mengungkit-ungkit pula kejadian di masa lampau, yakni waktu Inter Milan juga mesti bermain dengan sepuluh orang di semi-final leg II edisi 2009/10 gara-gara Thiago Motta dikeluarkan.

The Special One bahkan menuduh Barcelona sebagai anak emas UEFA. Logo UNICEF yang menempel di dada seragam Los Blaugrana pun ditudingnya turut berandil.

Namun, walaupun punya latar belakang 15 tahun memperkuat Los Merengues, notabene musuh tersengit El Barca, sebelum hijrah ke Besiktas tahun lalu, Guti tak sependapat dengan anggapan negatif tersebut.

"Sukses Barcelona didapat karena kualitas luar biasa yang mereka miliki dan bukan disebabkan kinerja wasit," cetusnya kepada Ona FM.


Pemain veteran berusia 34 tahun ini juga menyampaikan komentar positif dua andalan Barcelona, Lionel Messi dan Xavi Hernandez.


"Saya amat mengagumi Lionel Messi. Bagi saya, dia adalah pemain terbaik di dunia dan dalam beberapa tahun ke depan, kita akan melihatnya menjadi yang terbaik dalam sejarah sepakbola."

"Xavi adalah kawan baik saya dan menurut saya dia merupakan gelandang tengah terbaik di dunia," kata Guti.



Tak hanya itu, dia bahkan cukup berani mengatakan 'ada nilai' dari Mourinho yang tak selaras dengan Real Madrid. Pria yang kini bermain untuk Besiktas itu beropini Mourinho tidak senilai dengan lembar-lembar sejarah Madrid yang nilainya begitu tinggi dan terhormat.

"Ada beberapa hal yang tidak saya suka dari dirinya (Jose Mourinho). Salah satu prinsip utama Madrid padahal adalah kehormatan, dan orang-orang di dalam klub tersebut harusnya seperti itu," ungkap Guti kepada Ona FM.

"Mourinho adalah pria dengan karakter yang kuat, yang mana akan mempertahankan apa yang ia yakini hingga mati. Namun itu semua jelas bagus sebab tanpa hal itu Anda bakal dilahap kejamnya dunia sepak bola,"

Tentu opini Guti ia dasarkan pada kejadian di Super Copa del Rey beberapa waktu silam, ketika The Special One yang terlihat jelas menyentuh bola mata asisten FC Barcelona Tito Vilanova.

Satu lagi penjelasan dari beberapa pemain dan pelatih tentang FC Barcelona. Sekali lagi, permainan Barca itu wajib dinikmati, bukan untuk dicaci maki (apalagi yang habis kalah). Visca Barça and no offense!

Thursday, October 20, 2011

Kalau Barca licik, bagaimana dengan Madrid?

Semakin hari semakin banyak manusia-manusia yang mengatakan FC Barcelona sukses karena dibantu oleh UEFA, kerjaannya 'diving' terus, atau apalah itu yang jelas mereka termasuk golongan manusia yang belum mengerti sepakbola, barisan sakit hati atau entahlah... Dan nyatanya Real Madrid yang kini ditangani oleh spesialis kontroversi, Jose Mourinho, justru seperti memancing La Blaugrana untuk 'membalas' taktik licik Mourinho tersebut. Wow kok bisa?
Cekidot....


Apa taktik licik Mou?

1.
Meninggikan rumput lapangan Bernabeu.
Kondisi lapangan saat melawan Barca menjadi perhatian serius Mou. Untuk melawan alur bola tikitaka Barca, rumput di lapangan Santiago Bernabeu ditinggikan lebih dari biasanya. Walhasil aliran bola pemain Barca menjadi tidak secepat biasanya.
Taktik ini menurut saya ada unsur kelicikan. Kenapa sih tidak membiarkan saja rumput itu apa adanya. Toh, kalau memang pemain Madrid punya kualitas, ayo bertarung dengan skill yang ada. Permainan teknik dilawan dengan permainan teknik. Bukan dengan rumput. Kenapa harus rumput yang jadi alat untuk memenangkan pertandingan?
Taktik licik memanipulasi kondisi lapangan ini juga pernah digunakan Mou saat menukangi Chelsea melawan Barca. Dia menggenangi lapangan dengan air sehingga aliran bola Barca juga menjadi liar.

2.
Kontak Badan.
Saat el-clasico jilid II di Bernabeu, saya kaget melihat pemain-pemain Barca, terutama striker sering jatuh sebelum mereka mendapat bola. Saya perhatikan, mungkin ini adalah taktik licik juga agar penyerang tidak jadi melakukan serangan. Bola akan jatuh ke kaki lawan atau paling aman bola akan dikembalikan ke belakang lalu memulai rencakan penyerangan baru. Kontak badan ini tidak akan dilihat wasit karena wasit akan melihat area yang dekat dengan bola. Ini disebut Hidden Fault. Pelanggaran yang luput dari pengamatan wasit. Seperti copet di bus atau kereta. Aksi kriminal itu tidak diketahui oleh korban. Berbeda dengan perampokan. Mou sangat jeli dalam melihat kelengahan-kelengahan wasit. Seperti juga para pencopet yang jeli melihat kelengahan korban dan aparat penegak hukum.
Karena taktik inilah serangan-serangan Barca selalu gagal sejak bola berada di tengah lapangan. Bangkit dari jatuh cukup memakan energi sehingga pemain mudah kelelahan.

3.
Tekel Keras.
Anda bisa saksikan sendiri bagaimana Pepe memasang pul sepatunya ke arah kaki Alves. Anda juga pasti tidak buta melihat Marcello menginjak betis Pedro. Anda lihat juga bagaimana Adebayor menempeleng wajah Sergio. Dan berbagai pelanggaran keras yang dilakukan pemain-pemain Madrid. Tetapi peristiwa ini bukan semata-mata inisiatif pribadi pemain, melainkan pasti arahan dari pelatih mereka.
Mou dalam sesi latihan selalu berlatih dengan 10 pemain saat akan berhadapan dengan skuad Pep. Ini adalah antisipasi sekiranya salah satu dari pemain mereka dikeluarkan dari lapangan secara tidak hormat. Taktik tekel menekel dengan keras ini harus digunakan karena ketiadaan kreatifitas dari pelatih dan pemain untuk menghadang serangan-serangan dahsyat nan aduhai dari pemain-pemain Barca. Mou merasa telah kalah secara teknis dan skill, makanya pilihan ini harus digunakan. Namun di hadapan pers, Mou mengatakan bahwa taktik ini digunakan karena wasit selalu berpihak pada Barca. Mou selalu heran kenapa setiap melawan Barca harus ada pemainnya yang dikartumerahkan.
Lalu kenapa Anda harus heran Mou? Pilihan taktik Andalah yang membuat wasit tak segan mengeluarkan kartu merah.
Mou seperti juga para politisi yang melakukan pencitraan di hadapan publik saat pemilu atau pilkada. Seolah-olah dia terzolimi oleh keputusan wasit. Fitnah-fitnah kepada Pep dan lembaga FC Barcelona yang dilancarkan saat konfrensi pers sungguh suatu perbuatan yang memalukan. Dan Mou tidak pernah malu untuk melakukannya berkali-kali.

4.
Mencari keuntungan di kotak pinalti.
Taktik licik ini manjur digunakan Mou saat el-clasico jilid 2. Dan Marcello lah yang jadi bintangnya. Korbannya tentu saja Dani Alves. Saya perhatikan berulang-ulang tayangan itu, posisi Alves berada di depan Marcelo. Dan waktu mengamankan bola, Alves sama sekali tidak menyentuh pemain Madrid itu. Bola lah yang disentuhnya. Aksi diving ini (ini benar-benar diving karena tak ada pelanggaran tetapi Marcelo menjerti-jerit kesakitan). Maka jatuhlah keputusan wasit memberikan kado pinalti buat Madrid. Perlu diingat bahwa keputusan wasit ini sama sekali tidak dipermasalahkan kubu Barca.
Taktik ini juga diniatkan dipergunakan saat RM melawan Sporting Gijon di Barnebau waktu ketinggalan 0-1. Tetapi kado yang dinanti-nanti urung diberikan karena aksi diving beberapa pemain Madrid kurang mengesankan bagi wasit.
Dari keempat poin itu, nampak jelas bahwa Mou sangat pintar kalau tidak ingin dikatakan licik, melihat titik-titik untuk memanipulasi keputusan wasit. Baik itu yang berupa tidak diberikannya kartu bagi pemainnya, juga keputusan yang menguntungkannya.


Lalu bagaimana Pep mengantisipasi taktik licik itu?
Seperti yang saya katakan sebelumnya, bahwa kemarahan Pep atas kezholiman Mou bisa mengeluarkan semua kemampuan yang ada dalam dirinya. Yah, seperti Avatar Aang itu lah. Pep juga memanipulasi kelemahan wasit.
Point pertama tentang kondisi lapangan. Sehari sebelum el-clasico IV digelar, skuad Pep mengadakan latihan di lapangan berumput gondrong itu sebagai proses adaptasi bagi para pemainnya. Hasilnya kita lihat sendiri. Permainan tiki-taka berjalan dengan sempurna. Rumput sudah berhasil diatasi. Saya jadi berfikir, mungkin di kemudian hari rumput di lapangan itu akan di extention lebih gondrong lagi. Seperti orang yang meng-hair extention rambutnya di salon. Bisa nambah beberapa mili, bisa juga beberapa meter.
Poin kedua, Pep memerintahkan pemain depannya untuk tidak terlalu dekat atau menjaga jarak dengan pemain belakang Mou. Taktik ini cukup jitu karena saya tidak sering lagi melihat penyerang Barca jatuh sebelum mendapat bola. Walaupun kadang juga terjadi. Seperti saat Albiol menghadang laju Pedro.
Point ketiga tentang takel dan pelanggaran keras. Setiap kali pemain RM melakukan kekerasan dalam lapangan, pemain Barca beraksi berlebihan. Ini dilakukan untuk mencuri perhatian wasit bahwa mereka sedang dianiaya. Bila itu tidak dilakukan maka wasit akan terus membiarkan penganiyaan berlangsung.
Banyak orang (terutama fans Madrid) mengatakan bahwa aksi Alves, Pedro, dan Busquet ini adalah diving. Tapi menurut saya bukan karena aksi yang dikategorikan diving adalah yang bukan pelanggaran tetapi pemain berekting seolah-olah terjadi pelanggaran. Aksi beberapa pemain Barca ini semata-mata reaksi yang sedikit lebay lah. Anda bisa bayangkan jika reaksi mereka tidak lebay dan tidak menarik minat wasit mengeluarkan kartu, maka pemain RM akan terus menerus melakukan hal tersebut sampai tulang-tulang Alves, dkk, retak. Tubuh memar-memar.
Sebagai contoh pelanggaran yang dilakukan Pepe. Kubu Madrid melansir foto dan video tentang kejadian itu, lalu mengatakan bahwa kaki Pepe sama sekali tidak menyentuh bagian tubuh Alves. Coba Anda amati lagi dengan seksama, posisi Alves bergerak ke depan lalu kaki kanannya melayang ke belakang. Jika tidak bersentuhan, maka kaki Alves akan jatuh ke depan beserta tubuhnya. Tetapi ini justru berlawanan dengan gerakannya yang sangat cepat. Bila tidak bersentuhan, maka Alves memang seorang pemain akrobat yang sangat profesional. Bisa juga dia disejajarkan kemampuan kungfunya dengan Jet Lee atau Wong Fei Hong. Tapi saya sulit membayangkan itu. Untuk point keempat syukurlah tidak sempat terjadi karena pemain RM sangat jarang masuk ke areal kotak pinalti lawan.

Ini baru beberapa poin kecil saja taktik 'licik' Mourinho. Anda semua juga tahu Mou adalah sosok yang pintar memutar-balikan fakta dan pandai berkoar apalagi di depan media. Jadi sekali lagi jika Anda yang menyebut FC Barcelona adalah tim kesayangan UEFA, mungkin Anda belum membaca/memahami artikel ini.
Visca Barça and no offense!

Mourinho, Jilatlah Ludahmu Itu...

Pada pertarungan Leg1 semifinal UCL antara Real Madrid vs Barcelona di lapangan memang sudah berakhir, tetapi pertarungan di luar lapangan terus berlanjut. Kubu Real belum bisa menerima kekalahan dihadapan pendukungnya sendiri dengan skor 0-2.

Jose Mourinho sebagai pelatih Real merasa telah dizolimi oleh wasit karena dinilai telah berpihak ke kubu Barca. Salah satu yang paling diprotes adalah kartu merah yang diterima Pepes pada menit 60 akibat pelanggaran kerasnya terhadap Dani Alves.
Benarkah Pepe tidak layak menerima kartu merah itu?
Benarkah kartu merah diberikan kepada Pepe akibat provokasi pemain yang berlebihan terhadap wasit?
Dalam hal ini pasti masing-masing memiliki sudut pandangnya sendiri dan akibatnya akan terjadi perdebatan sengit. Tergantung dari sudut mana kita yang menilai.
Mourinho kali ini terlalu berlebihan dan kekanak-kanakan, respek saya segera menghilang. Karena menurut saya, Mou sudah bersikap berlebihan. Padahal kita tahu dia adalah seorang profesional, bukan anak-anak.
Katakanlah apa yang dilakukan Pepe bukan pelanggaran berat dan Alves bersikap berlebihan.
Seharusnya seorang Mou yang sudah sekian puluh tahun berkecimpung dalam dunia sepakbola tahu tentang hal ini.
Dimana para pemain suka melakukan diving dan kelicikan lain dalam lapangan untuk mendapatkan keuntungan bagi timnya. Bukankah saat menangani Chelsea dan Inter Milan, ia tahu betul para pemain jago dalam hal diving gerakan yang berlebihan saat dilanggar lawan?
Bukankah Mou juga sangat tahu kalau bintangnya di Real juga sangat jago dalam hal ini? Siapa lagi kalau bukan Ronaldo!
Dalam sepakbola satu hal yang paling saya tidak respek adalah tindakan para pemainnya yang sangat berlebihan ketika dilanggar. Mungkin kita sudah sering melihat, seorang pemain yang terkena gerakan tangan lawan bagian dadanya, tetapi yang dipegang justru bagian mukanya dan kemudian berguling-guling kesakitan.
Atau ketika lawan yang berusaha menghadang bola, namun menyenggol sedikit kakinya, tetapi yang terjadi si pemain menjerit kesakitan dan minta segera diselamatkan.
Kadang-kadang melihat kejadian ini, sampai pikiran jahat saya timbul. Andai saja saya yang jadi lawannya, sekalian saja saya tackle sampai patah, biar tahu rasa!
Jadi seharusnya seorang Mou kali ini belajar untuk menertawakan dirinya sendiri, karena taktik “liciknya” tidak berhasil saat menghadapi Barca.
Karena kesempatan yang dimiliki pemainnya untuk berlaku curang tidak kesampaian.
Begitulah dalam hidup ini, kita yang bernama manusia sangat dengan lebih jelas melihat yang dilakukan kesalahan orang lain. Dengan mudah melakukan penghakiman kepada orang lain. Padahal apa yang dilakukan orang lain tersebut, tidak berbeda dengan yang sering kita lakukan juga.
Visca Barça and no offense!